Belajar Menjadi Ayah Yang Dialogis

0
67
ayah dan anak

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

(Serial Qur’anic Parenting)

“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?’ Ismail pun menjawab, ‘Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shâffât: 102).

Pada seri yang lalu telah dibahas tentang ujian Tauhid Cinta Nabi Ibarahim, yang salah satunya adalah perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Pada seri ini kita akan fokus bagaimana cara Ibrahim mengkomunikasikan perintah yang berat itu kepada anaknya tercinta. Mimpi bagi para Nabi dan Rasul adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana hadits yang diriwayat oleh Ibnu Abbas, “Mimpi para Nabi dalam tidurnya adalah wahyu”. Ini diperkuat dengan jawaban sang anak dalam ayat tersebut, “Wahai Ayahku, lakukan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu”.

Para Salaf berbeda pendapat mengenai siapakah anak yang diperintahkan untuk disembelih itu, apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq. Al-Ashma’i lebih lebih merajihkan pendapat bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Mengingat semua kronologi dan situs sejarah, baik Manhar (tempat menyembelih) dan Jamarat (tempat lempar jumroh dimana Ibrahim digoda Iblis untuk mengurungkan niat menyembelih anaknya); semua ada di Makkah.

Sedangkan yang tinggal di Makkah adalah Ismail, bukan Ishaq. Para Mufassir berbeda pendapat mengenai usia Ismail saat hendak disembelih oleh ayahnya. Dalam tafsir Al-Baghawy disebutkan pendapat pertama, usianya 7 tahun. Pendapat yang kedua, usianya 23 tahun. Adapun menurut Ibnu Abbas, usianya adalah usia “Ihtilām” (baligh). Ada beberapa faedah tarbawiyah yang bisa kita ambil dari satu episode kisah Nabi Ibarahim dan Nabi Ismail tersebut.

Sesuai dengan kisah pada ayat di atas, sebelum Ibrahim menunaikan perintah Alloh untuk menyembelih Ismail, ia memilih untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan sang anak. Padahal bisa saja Ibrahim melakukan eksekusi penyembelihan itu secara langsung dan segera, baik saat Ismail tidur, menebas leher dari belakang saat ia lengah, atau dengan berbagai cara “aman” yang lain.

Dalam mengkomunikasikan perintah berat itu kepada anaknya, Ibrahim tidak menggunakan kalimat perintah yang bersifat monolog (satu arah). Tetapi ia lebih memilih berdialog (dua arah), yang dimulai dengan mengutarakan apa yang ia lihat dalam mimpinya dan meminta pendapat anaknya, “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”.

Apa yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail tersebut adalah wujud kebijaksanaannya sebagai seorang ayah, di mana di situ menunjukkan adanya: kedekatan hubungan antara ayah dan anak (Al-Qarābah), betapa demokratisnya sang ayah (Al-Musyāwarah), dan praktek menghormati pendapat dan perasaan orang lain (ihtirām ra’yil ākharīn). Padahal Ismail adalah anaknya sendiri dan masih sangat belia.

Setidaknya itu membuat Ismail lebih siap secara mental dan meniatkan dalam kesediaan atau kesabarannya untuk mengharapkan ridho dari Allah Ta’ala. Dimana itu terlihat dengan jawabannya yang tegas, “‘Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut di atas merupakan satu bentuk praktek dari motode pendidikan Qurani yang sangat efektif yaitu Uslūb Al-Hiwār At-Tarbawi (metode mendidik dengan dialog) yang mencakup: Tharhus Suāl (memulai dengan pertanyaan), Al-Munāzharah (diskusi), Al-Mujādalah (debat), atau Al-Hiwār Al-Bannā’ (menyampaikan sekumpulan pertanyaan yang terpilih dan saling berhubungan, dimana dari pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya akan tersimpulkan sendiri oleh yang ditanya sebag ai sebuah pengetahuan baru).

Metode dialogis ini juga sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dalam mendidik para Shahabat dan kaum Muslimin ketika itu. Seringkali ketika ditanya suatu masalah oleh mereka, Rasulullah tidak serta merta menjawab (to the point), tetapi didahului dengan pertanyaan dan dialog.

Ini adalah inspirasi bagi para ayah, agar bisa lebih dekat dengan anak-anak dengan cara ngobrol atau berdialog. Ini sangat penting dilakukan, bukan hanya untuk menjalin kedekatan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan pesan dan menanamkan nilai. Terutama pada anak usia remaja (Marhalah Murāhaqah wal Bulūgh), dimana mereka sedang membutuhkan teman bicara dan mulai kuat ego-nya untuk dihargai dan dihormati pendapatnya.

Bahkan dalam Al-Qur’an setidaknya terdapat 17 tema dialog antara ayah dan anak. Mengapa Ayah? Mengapa bukan Ibu? Tentu anjuran berdialog dengan anak ini berlaku untuk semua. Tetapi kita tahu bersama, secara alamiah seorang ibu biasanya memang sudah dekat dan sering ngobrol dengan anak, terutama karena para ibulah yang mengandung, melahirkan, dan merawat mereka. Juga karena peran domestiknya dalam rumah tangga, sehingga lebih dekat dengan mereka.

Berbeda dengan ayah yang lebih banyak bertugas di luar rumah. Ditambah dengan perbedaan gaya komunikasi antar lelaki dan perempuan pada umumnya. Disinilah alasan mengapa para ayah menjadi objek utama dalam tema ini. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here