Bersikap Adil di Antara Anak-Anak

0
96
Keluarga muslim

(Serial Qur’anic Parenting)

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

“Sungguh ada tanda-tanda kekuasaan Allah pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. Yaitu ketika mereka berkata,  ‘Sesungguhnya Yusuf dan adiknya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita ini banyak. Sesungguhnya ayah kita di dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS. Yusuf: 7-9)”.

Kisah dalam ayat tersebut adalah satu episode dari kisah panjang perjalanan Nabi Yusuf. Dimana dalam ada beberapa nilai pendidikan anak yang bisa kita tadabburi dari ayat tersebut, khususnya tentang urgensi bersikap adil kepada anak-anak, seperti berikut ini:

1. Sebagaimana dijelaskan oleh As-Sa’di, bahwa penyebab utama dari apa yang dilakukan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf adalah kecemburuan mereka atas Nabi Yusuf dan adiknya Nabi Bunyamin. Mereka merasa sang ayah, Nabi Ya’qub, melebihkan kasih sayang dan cintanya kepada Nabi Yusuf dan adiknya dibanding kepada yang lainnya.

2. Namun demikian, hampir semua ulama bersepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub bukanlah sebuah kezhaliman atau kejahatan. Beliau tidak sedang menzhalimi anak-anaknya dan mengurangi hak atau nafkah mereka, tetapi hanya terlihat mempunyai ekspresi sayang dan cinta yang lebih kepada Yusuf kecil dibandingkan dengan saudara-saudaranya, tentu dengan alasan dan sebab tertentu.

3. Apakah lebih mencintai dan menyayangi salah satu anak dibanding yang lain adalah sebuah kesalahan? Kecintaan orang tua terhadap anaknya merupakan sebuah ilham yang Allah Ta’ala tanamkan di hati mereka. Termasuk ketika ada perbedaan kadar cinta antara anak, seperti cintanya Nabi Ya’qub kepada Nabi Yusuf dan Bunyamin yang lebih dari yang lain. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari–Ku.” (QS. Thaha: 39).

4. Sangat wajar dan manusiawi sekali jika ada orang tua yang lebih mencintai anaknya yang lebih sholeh, santun, nurut, cerdas, ganteng, cantik, atau karena kelebihan-kelebihan yang lain. Karena rasa itu tidak bisa dipaksa. Sebagaimana Rasulullah terlihat sangat mencintai Bunda Khadijah, dan menanggapi Bunda ‘Aisyah yang cemburu karenanya dengan sebuah jawaban, “Sungguh aku telah dikaruniai cinta kepadanya” (HR. Muslim).

5. Akan tetapi rasa cinta dan sayang yang berbeda itu seharusnya cukup disimpan dalam hati dan tidak ditampakkan di hadapan anak-anak. Ia tidak boleh menjelma menjadi sebuah sikap pilih kasih. Tidak boleh membanding-bandingkan, apalagi mewujud menjadi kezhaliman terhadap anak-anak yang lain. Rasa dalam hati boleh beda, tetapi soal penunaian hak tetap harus sama.

6. Itu seperti kewajiban berbuat adil di antara istri-istri bagi yang berpoligami. Di satu sisi Allah memerintahkan untuk berbuat adil di antara para istri (QS. An-Nisā’: 3), tetapi dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa para suami tidak akan pernah bisa adil atas para istri meskipun sangat menginginkannya (QS. An-Nisā’: 129). Maksud ayat yang pertama adalah keadilan dalam nafkah dan pembagian hari yang bisa diukur. Sedangkan ayat yang kedua adalah keadilan dalam perasaan.

7. Soal keadilan dalam menunaikan hak dan membagi sesuatu yang terukur, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan para orang tua. Dari Nu’man bin Basyir, bahwasannya ayahnya datang membawanya menemui Rasulullah, lalu berkata, “Sungguh aku telah memberikan hamba sahaya milikku kepada anakku ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “Apakah semua anakmu mendapat pemberian seperti anakmu ini?”. Ayah Nu’man menjawab, “Tidak”. Maka Rasulullah pun bertanya, “Apakah engkau senang apabila mereka (anak-anakmu) semuanya berbakti kepadamu dengan sama?”. Lalu ayah Nu’man menjawab, “Aku mau wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah bersabda : “Kalau begitu, jangan kau lakukan (pilih kasih).” (HR. Muslim).

8. Dalam riwayat Imam Muslim lainnya yang juga diriwayatkan Imam Bukhari, dengan tambahan kalimat, “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anakmu”. Lalu ia balik dan mengambil kembali pemberiannya. Berdasarkan hadis tersebut, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menjelaskan bahwa orang tua akan berdosa jika mereka pilih kasih atau tidak adil terhadap anak-anaknya. Tidak berhak pula orang tua memberikan seorang anak pemberian yang lebih dari apa yang diberikan pada anak lainnya.

9. Perlu waspada juga dengan ekspresi cinta dan sayang yang disalahfahami anak-anak kita. Bisa jadi kita tidak bermaksud pilih kasih, tetapi apa yang kita ucapkan dan sikapkan kadang terasa ada diskriminasi bagi mereka, seperti yang dirasakan saudara-saudaranya Nabi Yusuf. Justru seharusnya kita bisa menunjukkan bahwa setiap mereka adalah istimewa bagi kita. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berhasil membuat para sahabatnya merasa bahwa setiap mereka adalah istimewa dan mempunyai kedekatan khusus dengan teladan agung itu. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here