Dahsyatnya Doa Orang Tua untuk Anaknya

0
95
Doa orang tua untuk anak

(Serial Qur’anic Parenting)

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Ayat di atas adalah salah satu doa yang paling penting dalam kehidupan berkeluarga yang Alloh abadikan dalam Al-Qur’an. Ada beberapa point yang bisa kita tadabburi dari ayat tersebut kaitannya dengan pendidikan anak, di antaranya:

1. Doa yang agung ini dilantunkan oleh para ‘Ibādurrahmān (hamba Allah Yang Maha Pengasih) dimana mereka dijanjikan oleh Allah dengan, “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam” (QS. Al-Furqan: 75). Kebiasaan melantunkan doa ini adalah salah satu sifat utama dari Ibadurrahman.

 2. Ini menunjukkan keseimbangan pribadi (tawāzun syahshi) para Ibadurrahman. Dimana mereka tidak hanya memiliki keshalihan dan hubungan vertikal dengan Allah yang kuat sebagaimana sifat-sifat yang disebutkan sebelumnya, tetapi mereka juga mempunyai hubungan sosial yang baik dan ketahanan keluarga yang kokoh.

3. Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berharap kepada Allah dengan doa mereka, “Rabb kami, kurniakan kepada kami dari pasangan dan anak-anak kami apa-apa yang membuat hati kami tenang, yaitu dengan Engkau perlihatkan kepada kami mereka melakukan ketaatan kepadamu”. Point pentingnya adalah, bahwa yang menyejukkan mata orang beriman itu adalah capaian ‘ubudiyah, bukan capaian-capaian duniawi yang lain.

4. As-Sa’di dalam tafsirnya menguraikan, bahwa ini menunjukkan betapa tinggi cita-cita dan obsesi mereka, bahwa tidak ada yang lebih menenangkan hati dan meyejukkan mata mereka, selain melihat pasangan dan anak-anak taat kepada Allah, mereka berilmu dan mengamalkan ilmu mereka.

5. As-Sa’di juga menambahkan, bahwa meskipun doa ini untuk keluarga, tapi hakikatnya juga doa untuk dirinya, karena kemanfaatannya juga akan tertuju padanya. Bahkan kemanfaatannya akan dinikmati oleh kaum Muslimin pada umumnya, karena baiknya sebuah keluarga adalah faktor utama baiknya masyarakat yang meliputinya. Disini point penting tentang Tarbiyatul Mujtama’ (Pendidikan Masyarakat).

6. Penyebutan kata-kata “Azwaaj” (pasangan) yang didahulukan sebelum kata-kata “Dzurriyah” (anak keturunan), selain memang sebagai urutan yang logis dalam hubungan keluarga, juga memberikan isyarat bahwa baiknya pasangan adalah jalan utama untuk memperbaiki anak keturunan. Terutama para istri, yang interaksi mereka dengan anak-anak lebih intens. Maka jangan remehkan pembinaan ke istri.

7. Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah mencatat keteladanan para Nabi dan Rasul dalam Tarbiyah bid Du’ā (membina dengan doa), salah satunya dalam membina anak-anak. Maka banyak didapatkan berbagai macam redaksi doa para Nabi untuk para anaknya, seperti dalam: Surat Maryam: 5-6, Surat Ali ‘Imrān: 38, Surat Al-Baqarah: 128, Surat Ash-Shāffāt: 100, Surat Ibrāhīm: 35 & 40, Surat Al-Ahqāf: 15. Alangkah baiknya contoh doa-doa ini kita hafal dan kita baca secara rutin dalam waktu-waktu mustajab setiap hari.

8. Betapa dahsyatnya doa orang tua untuk anaknya. Ia termasuk doa yang mustajab (terkabul). Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab, yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang sedang safar dan doa baik orang tua untuk anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

9. Sebaliknya, para orang tua harus bisa menahan diri agar tidak keluar dari lisan mereka kata-kata dan doa yang buruk. Karena itu juga termasuk doa akan terkabul, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Ada tiga jenis doa yang dikabulkan, tidak diragukan lagi

, yaitu doa orang yang dizhalimi, doa orang yang safar dan doa kejelekan kedua orang tua untuk anaknya.” (HR. Bukhari dalam Al Adab Al-Mufrād). Sebagaimana kisah shohih tentang seorang Ahli Ibadah bernama Juraij yang didoakan buruk oleh ibunya.

10. Terakhir, doa orang tua untuk anak-anaknya adalah sebuah bukti cinta yang paling tulus nan sejati untuk mereka. Karena itu dilakukan tanpa sepengetahuan siapa pun. Hanya antara kita dan Allah Ta’ala. Berbeda dengan kebaikan orang tua yang lain seperti memberi nafkah, merawat, berinterkasi dengan baik, itu semua dirasakan secara langsung oleh anak-anak. Disitulah doa menjadi bukti cinta yang paling autentik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here