Kesulitan Itu Tabiat Kehidupan

0
246
problem

Oleh: Ustadz Ihsan Saifuddin

Tanpa kecuali, setiap orang pasti dihadapkan pada kesulitan. Hanya saja bentuk kesulitan yang dihadapi masing-masing berbeda-beda. Namun pada prinsipnya, tak ada manusia yang bebas dari kesulitan, karena kesulitan itu tabiat kehidupan. Kesulitan sebagai tabiat kehidupan, oleh para pinisepuh Jawa diungkapkan dalam kalimat “Ruwet renteng iku sandangane ngaurip”.

Hidup selalu dihadapkan pada kesulitan sebagaimana kenyataan yang kita temukan keseharian. Sebagai contoh: Kesuitan yang dihadapi pejuang tauhid adalah makar kaum kafirin yang berupa penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan dan pengusiran. Tabiat kesulitan yang dihadapi pejuang tauhid tersebut telah dijelaskan Allah pada ayat berikut:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Surat Al-Anfal: 30).

Tabiat kesulitan tersebut di atas melekat kuat pada diri setiap pejuang tauhid, adapun kesuitan secara umum adalah sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah  : 155).

Oleh karena Allah menciptakan kesulitan sebagai tabiat kehidupan, maka jika kita liat ada orang lain yang tidak menghadapi kesulitan, itu hanya penampakan luarnya saja, yang kita tidak tahu isi dalamnya. Inilah yang dalam falsafah Jawa dikatakan “Urip mung wang sinawang”  (penilaian manusia hanya berdasarkan pengliatan sepintas itupun hanya dari luarnya saja).

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa semua manusia dihadapkan pada kesulitan.  Bahkan sejak masih dalam kandungan, manusia sudah dihadapkan pada kesulitan. Sekadar mengungkap pasti adanya kesulitan, berikut ini adalah sepenggal bait tembang yang pernah dilantunkan D’Masid menyatakan hal tersebut “Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi. Kita meski pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi” [D’Masiv].

Al Qur’an telah menjelaskan tabiat kehidupan ini sulit, namun di balik kesulitan Allah janjikan jalan keluar dan sekaligus kemudahan. Allah ta’ala berfirman:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”  (Surat Al-Balad : 4)

Islam itu solusi kesulitan

Meski hidup dihadapkan pada  susah payah, namun di balik kesulitan ada kemudahan. Mempertegas pasti adanya solusi atas setiap kesulitan yang dihadapi, Allah Ta’ala mengulang firmannya hingga dua kali berurutan, Allâh Ta’ala berfirman,

“Maka sesungguhnya di balik  kesulitan ada kemudahan”

“Sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan”  (Surat Al-Insyirah: 6)

Sesulit apapun yang dihadapi, pada akhirnya tetap ada kemudahan. Untuk mengungkapkan itu semua, orang sering mengatakan, “badai pasti berlalu” atau ada ungkapan lain “Semua akan indah pada waktunya”.

Solusi dengan amal shalih

Perbuatan baik (amal shalih) akan menjadi solusi atas kesulitan yang dialami salah satunya adalah kisah terhentinya pandemi yang melanda negeri Mesir sebagaimana penuturan Syaikh Dr. Ahmad at-Thukhi  berikut ini:

“Wabah (pandemi) menyebar luas di Mesir, akan tetapi setelah pemerintah Mesir mengulurkan bantuan dalam jumlah yang besar untuk warga Gaza (Palestine) wabah tersebut segera berakhir” (Dr. Ahmad Al-Thukhui).

Termasuk bukti nyata bahwa perbuatan baik (amal shalih) itu solusi atas kesulitan yang dihadapi seseorang, dapat dipahami dari kisah selamatnya nabi Yunus alaihissalam dari kesulitan yang menghimpitnya. Selamatnya Nabi Yunus (diceburkan laut dan ditelan ikan) adalah berkat amal shalih yang dilakukan sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa amal shalih adalah bentuk usaha yang sangat dahsyat dalam menyelesaikan kesulitan. Allah ta’ala berfirman:

“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah” (Surat Ash-Shaffat : 143).

“Niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan” (Surat Ash-Shaffat :144)

Memperjelas adanya amal shalih menjadi solusi kesulitan, penulis tafsir al-Muyassar menafsiri ayat tersebut di atas demikian:

“Kalaulah bukan karena sebelumnya nabi Yunus banyak beribadah dan beramal shalih sebelum ditelan ikan…”

“Yaitu nabi Yunus  banyak mengucap _”Laa Ilaha illa  Anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin”  pastilah nabi Yunus tetap terkubur dalam perut ikan hingga hari kiamat” (Tafsir al- Muyassar)

Melengkapi pembahasan perbuatan baik (amal shalih) sebagai solusi kesulitan, kisah tiga orang yang terjebak dalam gua dan terselamatkan berkat amal shalih yang dilakukan sebelumnya adalah bukti nyata dahsyatnya perbuatan baik. Disebutkan dalam riwayat demikian:

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy telah menceritakan kepada saya Salim bin ‘Abdullah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhuma berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga orang dari kalangan orang sebelum kalian yang sedang bepergian hingga ketika mereka singgah dalam gua lalu mereka memasuki gua tersebut hingga akhirnya ada sebuah batu yang jatuh dari gunung hingga metutupi gua. Mereka berkata; Tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali bila kalian berdoa meminta kepada Allah dengan perantaraan kebaikan amal kalian. Maka seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah, aku memiliki kedua orangtua yang sudah renta. Dan aku tidaklah pernah memberi minum susu keluargaku pada akhir siang sebelum keduanya. Suatu hari aku keluar untuk mencari sesuatu dan aku tidak beristirahat mencarinya hingga keduanya tertidur, aku pulang namun aku dapati keduanya sudah tertidur dan aku tidak mau mendahului keduanya meminum susu untuk keluargaku. Maka kemudian aku terlena sejenak dengan bersandar kepada kedua tanganku sambil aku menunggu keduanya bangun sampai fajar terbit, lalu keduanya terbangun dan meminum susu jatah akhir siangnya. Ya Allah seandainya aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah batu ini. Maka batu itu sedikit bergeser namun mereka belum dapat keluar. Nabi ﷺ berkata, Kemudian berkata, yang lain, “Ya Allah, bersamaku ada putri pamanku yang menjadi orang yang paling mencintaiku. Suatu hari aku menginginkannya namun dia menolak aku. Kemudian berlalu masa beberapa tahun hingga kemudian dia datang kepadaku lalu aku berikan dia seratus dua puluh dinar agar aku dan dia bersenang-senang lalu dia setuju hiingga ketika aku sudah menguasainya dia berkata; tidak dihalalkan bagimu merusak keperawanan kecuali dengan cara yang haq. Maka aku selamat dari kejadian itu. Lalu aku pergi meninggalkannya padahal dia wanita yang paling aku cintai dan aku tinggalkan pula emas perhiasan yang aku berikan kepadanya. Ya Allah seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah pintu gua ini dimana kami terjebak di dalamnya. Maka terbukalah sedikit batu itu namun mereka tetap belum bisa keluar. Bersabda Nabi ﷺ: Kemudian orang yang ketiga berkata, Ya Allah aku pernah memperkerjakan orang-orang lalu aku memberi upah mereka kecuali satu orang dari mereka yang meninggalkan haknya lalu dia pergi. Kemudian upah orang tersebut aku kembangkan hingga beberapa waktu kemudian ketika sudah banyak harta dari hasil yang aku kembangkan tersebut orang itu datang kepadaku lalu berkata, “Wahai ‘Abdullah, berikanlah hak upah saya!” Lalu aku katakan kepadanya; Itulah semua apa yang kamu lihat adalah upahmu berupa unta, sapi, kambing dan pengembalanya”. Dia berkata, “Wahai ‘Abdullah, kamu jangan mengolok-olok aku!” Aku katakan: Aku tidak mengolok-olok!” Maka orang itu mengambil seluruhnya dan tidak ada yang disisakan sedikitpun. Ya Allah seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah batu gua yang kami terjebak di dalamnya”. Maka batu itu terbuka akhirnya mereka dapat keluar dan pergi”. (HR. Bukhari: 2111).

Masih seputar dahsyatnya perbuatan baik, efek keselamatan yang ditimbulkannya bukan hanya bagi pelakunya, anak cucupun beroleh keselamatan berkah amal shalih kedua orang tuanya. Pernyataan tersebut, diambil dari kesimpulan kisah nabi Hidhir yang membangun kembali  rumah anak yatim yang hampir roboh. Kisah ini dapat dibaca di surat al-Qashash.

Tidak harus panjang lebar menguraikan dalil dahsyatnya perbutan baik dalam menyelesaikan kesulitan hidup, cukuplah seorang mukmin meyakini bahwa perbuatan baik membuahkan “hayatan thayyiban” kehidupan yang baik sebagaimana dijelaskan ayat berikut ini:

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Surat An-Nahl :  97).

Selain ayat di atas, perbuatan baik akan selalu menjadi solusi kesulitan telah disebutkan dalam banyak dalil, baik al quran atau assunnah, antara lain adalah sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”(Surat Al-Hajj : 77)

Ayat tersebut di atas dengan jelas menerangkan hebatnya pengaruh amal shalih, baik amal shalih berupa ibadah kepada Allah atau mu’amalah terhadap sesama manusia. Ayat tersebut di atas dipertajam penjelasannya pada hadist nabi shalallahu alaihi wasalam berikut ini:

“Perbuatan baik itu mencegah kejadian buruk, kebinasaan dan kehancuran. Pelaku kebaikan di dunia adalah juga pemetik kebaikan di akhirat -surga” (HR al-Hakim, dinilai shahih oleh Syaikh al-Bani).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here