Keutamaan Menanamkan Tauhid pada Anak

0
181
anak berdoa

Oleh: Dr Hakimuddin Salim
(Serial Quranic Parenting Vol. 1)

قال الله تعالى: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi wejangan kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar'” (QS. Luqmân: 13).

Salah satu tokoh ayah inspiratif yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Luqmân Al-Hakîm. Bahkan namanya secara khusus dijadikan nama sebuah surat dalam Al-Qur’an. Padahal menurut mayoritas Ulama, ia bukan termasuk Nabi dan Rasul. Tentu ini mendorong kita untuk mengkaji lebih dalam profilnya dan pesan-pesannya.

Sang ayah yang bijak itu, mempunyai beberapa wejangan untuk anaknya yang dicatat oleh Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir, “Wejangan-wejangan dari Luqman yang penuh manfaat ini telah Alloh Ta’ala kisahkan untuk diteladani dan dipraktekkan oleh manusia” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/445).

Dan wejangan pertama yang keluar dari lisannya untuk sang buah hati adalah penanaman Tauhid (pengesaan Allah), dimana ini adalah pondasi utama yang akan menentukan kuatnya bangunan keagamaan seorang anak ketika tumbuh nanti.

Ini juga kunci utama kebahagiaan dan keselamatan sang anak, terutama nanti di alam akherat. Sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang meninggal dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan apapun pasti masuk surga, dan orang yang meninggal dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka” (HR. Muslim).

Ada beberapa faidah tarbawiyah (inspirasi kependidikan) dari redaksi wejangan tersebut yang menarik untuk didalami, diantaranya adalah:

1. Kalimat “Li ibnihi” (kepada anaknya), ini menyiratkan kedekatan hubungan antara seorang ayah dan anak, dan kedekatan merupakan kunci utama untuk diterimanya sebuah nasehat. Akan berbeda hasilnya jika di antara keduanya ada jarak yang menjadi sekat.

2. Kalimat “Wahuwa ya’izhuhû” (saat ia memberi wejangan kepadanya), menunjukkan bahwa Luqman menerapkan Uslûb Al-Mau’idzoh (metode wejangan), dimana ciri utama dari metode ini adalah menasehati dengan cara yang halus.

3. Panggilan sayang “Yâ Bunayya” (Wahai anakku), adalah bentuk pengamalan dari Uslûb Al-Mulâthofah (metode berlemah-lembut), dan ini selain sebagai tanda cinta, juga merupakan bentuk komunikasi efektif karena pada umumnya otak manusia akan lebih mudah menerima sesuatu yang positif.

4. Padahal diriwayatkan bahwa anak Luqman tersebut saat itu belum beriman. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qusyairi, “Dahulu anak dan istri Luqman adalah kafir, maka ia terus-menerus memberi wejangan kepada keduanya sampai mereka beriman” (Fathul Qadîr: 4/237).

5. Kalimat “Lâ tusyrik billâh” (Jangan menyekutukan Allah) adalah salah satu metode utama penanaman Tauhîd. Ini mirip dengan kalimat Tauhid “Lâ ilâha illallah” (tiada yang berhak disembah selain Alloh), yang merupakan Uslûb An-Nafyi lil Itsbât (metode meniadakan sesuatu untuk menetapkan sesuatu).

6. Ini berbeda dengan sebuah teori pendidikan anak yang melarang secara mutlak penggunaan kata-kata “tidak” atau “jangan”. Bahwa kalimat yang bersifat larangan bisa digunakan dalam kondisi dan tema prinsipil tertentu. Terutama untuk anak usia Tamyîz (sudah bisa berlogika), agar mereka tidak tumbuh dalam budaya permisif (serba boleh).

7. Kalimat “Innas syirka lazhulmun ‘azhîm” (sesungguhnya meyekutukan Allah adalah sebuah kezaliman yang besar) adalah bentuk rasionalisasi dari sebuah larangan dengan mengaitkannya dengan sesuatu yang universal dan mudah diterima oleh akal atau perasaan manusia.

8. Ini juga memberi pelajaran bahwa dalam melarang atau memerintah anak melakukan sesuatu, meski mereka kita anggap masih kecil dan di bawah kendali kita, tetap harus dengan argumen yang bisa diterima akal mereka. Ini adalah pengamalan Uslûb Al-Iqnâ’ Al-Fikry (metode meyakinkan secara logika) yang sangat bagus untuk merangsang daya kritis dan membiasakan anak berpikir mendal
Demikian sedikit kupasan atas ayat di atas. Tentu hal tersebut hanya salah satu contoh dari penanaman Tauhid pada anak. Banyak konten lain yang penting harus disampaikan, yang harus mencakup penjabaran tentang macam-macam Tauhid (Ulûhiyyah, Rubûbiyyah dan Asmaa’ wa Shifât).

Juga banyak metode lain yang bisa digunakan seperti dengan: Uslûb Al-Qudwah (keteladanan), Uslûb Al-Qisshoh (berkisah), Uslûb Dhorbul Amtsâl (permisalan), dan Uslûb Tarbiyah bil Ahdâts (mengupas kejadian di sekitar), tentu disesuaikan dengan perbedaan karakter dan tahap kembang anak.

Sekali lagi, penanaman Tauhîd pada anak adalah yang pertama dan utama. Ini adalah amanah besar bagi orang tua dan para pendidik untuk menunaikannya. Jangan sampai mereka tumbuh dewasa, sekolah bertahun-tahun lamanya, mempelajari berbagai ilmu yang ada, namun belum bisa mengesakan dan mengenal dengan baik Rabb mereka. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here