Menyiapkan Reuni Keluarga di Surga

0
78
Keluarga

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

“Orang-orang yang beriman, dan anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami susulkan anak-cucu itu dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Ath-Thūr: 21).

Sebagai orang tua, kita pasti ingin bisa hidup bersama dengan anak-anak kita selamanya. Betapa berat rasanya harus berpisah dengan mereka, baik itu karena kuliah, kerja, nikah, apalagi karena kematian. Namun semua itu, mau tidak mau, suka tidak suka, adalah sebuah sunnatullah dalam penciptaan. Ada kehidupan, ada kematian. Ada kebersamaan, ada kesendirian. Ada pertemuan, ada perpisahan. Maka yang paling penting adalah bagaimana kita dan anak-anak kita bisa bertemu dan bersama lagi di kehidupan yang kekal nanti.

Berikut ini beberapa point tadabbur dari ayat di atas yang penting untuk kita perhatikan, agar kita bisa menyiapkan reuni keluarga di surga kelak:

1. Karunia untuk bisa reuni keluarga di surga ini terbatas untuk yang beriman. Tidak berlaku jika salah satu pihak keluarga tidak beriman, baik anaknya atau orang tua. Apalagi jika keduanya kafir. Ini tersurat jelas dalam dua kalimat “Alladzīna āmanū” (orang-orang yang beriman) dan “wattaba’athum dzurriyyatuhum bi īmān” (Keluarga mereka yang mengikuti mereka dengan iman).

2. Imam Thabari dalam tafsirnya menukil pendapat Ibnu Abbas, bahwa keturunan orang Mukmin yang beriman itu akan digabungkan dan disusulkan kepada orang tua mereka (dalam derajatnya di surga), meskipun keturunan tersebut kualitas dan kuantitas amalannya tidak sebaik orang tua mereka. Hal itu sebagai pemuliaan bagi para orang tua.

3. Adapun Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya memperinci, bahwa yang dimaksud dzurriyah (keturunan) disini mencakup dua macam: yang pertama, adalah anak kecil yang belum baligh (Ash-Shighār), ini tanpa syarat iman karena mereka belum mukallaf. Yang kedua, adalah keturunan yang sudah dewasa (Al-Kibār), dengan syarat beriman.

4. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa syafaat untuk mendapatkan sebuah kenikmatan di akherat itu, tidak hanya berasal dari anak ke orang tua (bottom up), seperti dalam Hadits keutamaan anak sholeh atau Hadits mahkota bagi orang tua yang anaknya hafal Al-Qur’an. Tetapi juga berlaku dari orang tua (top down) ke anak karena keimanan dan keshalihan-nya.

5. Bergabungnya anak keturunan (yang lebih rendah amalannya) tersebut tanpa mengurangi derajat dan jatah kenikmatan yang diberikan kepada orang tua. Justru menurut As-Sa’di dalam tafsirnya, itu merupakan “Tamām na’īmi ahlil jannah” (sebagai bentuk kesempurnaan penghuni surga).

6. Ayat tersebut ditutup dengan, “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”, ini penegasan dari point sebelumnya. Dari sinilah kita memahami makna Al-Ghofūr Ar-Rahīm, Dzat Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Dosa kita bisa saja diampuni-Nya dan amalan baik kita diganjar lebih dari yang seharusnya. Seandainya dosa kita diabalas pun, tidak akan lebih dari kadar yang semestinya, karena Ia adalah Al-‘Adl, Rabb Yang Maha Adil.

7. Dari ayat tersebut, bisa disimpulkan bahwa untuk menyiapkan reuni keluarga di tempat tertinggi dan terindah di surga nanti, diperlukan: keimanan semua anggota keluarga dan keshalihan yang maksimal dari para orang tua. Ini butuh at-tarbiyah madal hayâh, mendidik diri dan keluarga, tanpa henti, hingga mati. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here