Mumarasah ‘Amaliyah: Urgensi Melibatkan Anak dalam Amal

0
52
anak kecil sholat

(Serial Qur’anic Parenting)

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

Tarjamah Tafsiriyah: Dan ingatlah, ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdoa: “Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127).

Kembali kita mentadabburi kisah seorang ayah terbaik sepanjang zaman dengan anaknya yang sholeh, yaitu Nabi Ibarahim dan Nabi Ismail ‘alaihimasslām. Di mana disebutkan dengan jelas dalam ayat ini mereka berdua bergotong-royong membangun pondasi Ka’bah Al-Musyarrafah, rumah Allah Ta’ala yang pertama kali dibangun di muka bumi namun telah roboh ketika itu. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya suatu hari Ibrahim menjenguk Ismail di Makkah dan terjadilah beberapa percakapan di antara mereka. “Wahai Ismail, sesungguhnya Rabb-mu memerintahkan aku untuk membangun kembali rumah-Nya”, kata Ibrahim. Ismail pun menjawab, “Taatilah Rabb-mu kalau begitu”. Ibrahim kembali berkata, “Ia menyuruhku agar engkau membantuku”. Ismail pun menjawab, “Kalau begitu, aku laksanakan”. Lalu mereka berdua pun bediri dan memulai membangun Ka’bah. Nabi Ibrahim yang menyusun bangunan, sedangkan Nabi Ismail mengambilkan atau mengantarkan bongkahan demi bongkahan batu. Mereka pun berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (HR. Bukhari No. 3365).

Ada banyak faedah tarbawiyah yang bisa ambil dari satu episode cerita Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas, diantaranya adalah:

1. Pentingnya melibatkan dan mengajak anak dalam melakukan amal, terutama amalan yang bisa dilakukan bersama-sama seperti: sholat berjama’ah, menunaikan Haji atau Umrah, membangun Masjid atau membersihkannya, berdakwah di masyarakat, memberikan zakat atau shodaqoh, serta amalan sosial yang lain. Di mana ini sangat efektif bukan hanya untuk mempererat ikatan emosional orangtua-anak, tetapi juga untuk membiasakan mereka beramal (at-ta’wīd) dan menanamkan rasa senang untuk melakukannya (at-tahbīb).

2. Hal ini merupakan pengamalan salah satu Uslūb Tarbawi (metode pendidikan) yang terpenting dalam Al-Qur’an, yaitu Uslūb Al-Mumārasah Al-‘Amaliyah yang mencakup: Tathbīq (praktek), Tajrīb (percobaan), Mulāhazhah (pengamatan), Tahlīl Ahdāts (mengupas kejadian di lingkungan sekitar), dan menyelenggarakan berbagai event tertentu, demi untuk transfer pengalaman dan ilmu pengetahuan.

3. Syekh ‘Abdul Fattāh Abu Ghuddah mengatakan, “Mendidik dengan metode ‘amaly atau dengan tujuan praktek, itu lebih membekas dalam jiwa, lebih mudah untuk dipahami atau diingat, dan lebih menarik untuk ditiru atau dicontoh, daripada mendidik dengan sekedar menggunakan perkataan atau penjelasan” (Ar-Rasūl Al-Mu’allim: 65).

4. Tidak berbanyak-banyak menyampaikan teori tetapi langsung melangkah kepada pengamalan, juga merupakan rahasia suksesnya tarbiyah Rasulullah kepada para Shahabat. Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, bahwasanya Rasullullah dahulu mengajarkan kepada para sahabat 10 ayat dari Al-Qur’an, dan tidak beralih darinya sampai mereka mengamalkannya. Maka saat itu kami belajar Al-Qur’an dan pengamalannya sekaligus (HR. Ahmad).

5. Bahkan dalam tulisannya yang berjudul, Al-‘Ilmu fil Islām, Al-Khouli berpendapat, bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam hari ini adalah karena kita dalam banyak hal terbiasa terpaku dan berputar-putar dalam teori yang memukau, tanpa melangkah pada realisasi nyata yang mengantarkan pada kondisi yang lebih baik.

6. Selain tentang melibatkan anak dalam amal, ketika Nabi Ibrahim berdoa bersama Nabi Ismail, “Wahai Rab Kami, terimalah amal-amal kami”, mengandung ibroh bagaimana seorang ayah menanamkan pada anaknya rasa rasa takut (khauf) dan harapan (rajā’), serta jauh dari sifat ujub (bangga diri). Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Jazāiri dalam Aisar At-Tafāsīr, “Dari tindakan dan ucapan Nabi Ibrahim dan Isma’il dapat diketahui tingginya rasa takut dan harap, serta jauh dari bangga diri. Amal yang begitu mulia dan agung itu dianggap kurang oleh mereka berdua, sampai-sampai mereka berdo’a kepada Allah agar amal mereka diterima sehingga bermanfaat, dan seperti inilah kesempurnaan.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here