Tauhid Mahabbah: Skala Prioritas Antara Cinta Allah dan Cinta Anak

0
48
Cinta anak

Oleh: Dr Hakimuddin Salim

“Dan ingatlah, ketika Ibrâhîm diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘Dan aku mohon juga dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘Janji-Ku ini tidak akan menerimanya orang-orang yang zhalim” (QS. Al-Baqarah: 124).

Ayat tersebut menceritakan tentang Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalâm, yang diuji oleh Allah Ta’ala dengan berbagai hal, salah satunya Alloh menguji sekuat apa Tauhid Mahabbah (meng-esakan Alloh dalam cinta) yang dimiliki oleh Nabi dibanding dengan cintanya kepada anaknya, Ismâ’îl ‘alaihissalâm.

Ujian tauhid cinta Ibrâhîm Nabi Ibrâhîm adalah salah seorang Nabi yang tidak mempunyai keturunan hingga tua. Diceritakan bahwa Istrinya pun sudah tua dan mandul. Ia pun terus meminta kepada Allah Ta’ala dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Wahai Tuhanku, kurniakan kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang sholeh” (QS. Ash-Shâffât: 100).

Akhirnya doa dan harapan yang telah dipupuk lama itu pun terkabul. Nabi Ibrahim mendapatkan karunia anak dari rahim Hajar dan memberi namanya Ismâ’îl. Dalam Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Ibrâhîm baru diberi karunia anak setelah usianya 86 tahun. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Alloh Ta’ala memerintahkan Ibrâhîm agar ia membawa Hajar dan Ismâ’îl ke sebuah lembah tandus bernama Bakkah (Makkah) dan meninggalkan mereka sendirian disana.

Saat Ibrahim memalingkan badan hendak pergi, Hajar memegang bajunya dan berkata, “Wahai Ibrahim, mau kemana? Engkau tinggalkan kami disini? Bekal kami tidak cukup!”, Ibrahim hanya diam. Sebagai seorang lelaki yang cinta kepada keluarganya, ia kelu untuk berkata-kata. Namun ia sadar, Allah sedang menguji tauhid cinta-nya. Lalu Hajar bertanya lagi, “Apakah Alloh yang menyuruhmu melakukan ini?”. Ibrahim pun menjawab singkat, “Iya”. Hajar pun menenangkannya, “Kalau begitu, Allah tidak akan menerlantarkan kami”. Singkat cerita, setelah Ismail mulai menganjak remaja, Ibrahim kembali ke Makkah dan hidup bersama anaknya.

Melalui sebuah mimpi, disitulah Alloh kembali menguji Ibrahim dengan perintah yang berat, yaitu sebuah perintah untuk menyembelihnya. Bayangkan, seorang buah hati yang sudah ia nanti selama puluhan tahun. Begitu lahir, ia “menerlantarkannya” di sebuah lembah tandus. Dan kini setelah mereka bisa kembali hidup bersama, turun perintah untuk menyembelihnya? Namun Ibrahim kembali sadar, Allah Ta’ala sedang kembali menguji tauhidnya. Apakah prioritas cintanya tetap untuk Allah, atau terkalahkan oleh cintanya kepada anaknya.

Ujung kisah ini Al-Qur’an ceritakan dalam Surat Ash-Shāffāt ayat 102-111: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” Cinta Allah Harus yang Pertama Allah Ta’ala berfirman, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Al-Baqarah: 165).

Allah juga berfirman, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24).

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari & Muslim). Bagaimana Tauhid Cinta Kita? Ketika ditanya mana yang lebih kita prioritaskan, apakah cinta Allah atau cinta anak? Mungkin lisan kita akan dengan lancar menjawab, “Cinta Allah”.

Padahal kata cinta itu perlu pengujian dan pembuktian. Tentu kita tidak akan diuji dengan perintah meninggalkan istri dan anak di lembah tandus nan panas sendirian, atau diuji dengan perintah menyembelih anak kita seperti Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail. Itu bukan level kita. Kita hanya akan diuji dengan syari’at-Nya. Apakah cinta kita pada anak kita menjadi penghalang untuk komitmen dengan syari’at-syari’at Allah Ta’ala? Apakah kita berhasil membingkai cinta kita kepada anak kita dengan aturan-aturan-Nya?

Ada manusia yang tergoda melakukan korupsi, mencuri uang rakyat dan negara, sebagai cara menjamin kesejahteraan anak dan istrinya. Disini cintanya kepada anak mengalahkan cinta kepada Alloh Ta’âlâ. Ada juga yang kekeuh bekerja bergelimang riba, karena takut miskin dan khawatir akan masa depan anaknya. Disini cintanya kepada anak mengalahkan cinta kepada Alloh Ta’âlâ. Ada juga yang saking ingin membuat hidup anaknya cerah dan gemilang, menyekolahkan dan menguliahkan anaknya setinggi-tingginya, namun lupa mengenalkannya dengan Rabb-nya.

Disini cintanya kepada anak mengalahkan cinta kepada Alloh Ta’âlâ. Ada pula yang membiarkan anak perempuannya mengumbar aurat, karena tidak ingin mengekang kebebasannya dan menghargai pilihan hidupnya. Disini cintanya kepada anak mengalahkan cinta kepada Alloh Ta’âlâ. Pun ada yang membiarkan anaknya tidur terlelap meninggalkan sholat, karena tidak tega membangunkan anak terkasihnya. Disini cintanya kepada anak mengalahkan cinta kepada Alloh Ta’âlâ. Mencintai Anak Karena Allah Sebenarnya antara cinta kepada Alloh Ta’ala dan cinta kepada anak tidak perlu dipertentangkan. Justru seharusnya keduanya bisa saling mendukung dan menguatkan. Orang yang cintanya kepada Alloh Ta’ala begitu dalam, pasti juga akan sangat mencintai anaknya. Karena anak adalah amanah dari Allah Ta’ala. Dan saat cinta anak itu disandarkan kepada Alloh, ia telah bersandar pada Yang Maha Kuat dan Kekal. Maka cinta itu pun akan kuat dan kekal. Orang yang benar-benar mencintai anaknya secara sejati, logis, dan visioner, ia tidak hanya akan memikirkan kebahagiaan anaknya di dunia, namun juga mengkhawatirkan kebahagiaan anaknya di akherat sana. Hingga ia jaga betul-betul anaknya agar tidak keluar dari syariat Allah Ta’ala.

Orang-orang yang mencintai anaknya karena Alloh, mempunyai keyakinan bahwa semua perintah dan larangan Allah pasti menyimpan hikmah dan mengantarkan pada kesudahan yang baik. Seperti yakinnya Ibrahim, saat ia meninggalkan bayinya di lembah Bakkah, yang ternyata kemudian Allah kirimkan air zam-zam, hingga Makkah pun menjadi pusat peradaban. Sebuah akhir yang indah. Seperti yakinnya Ibrahim, saat ia sudah bergegas untuk menyembelih anaknya, meletakkan sebilah golok di lehernya, lalu tiba-tiba Alloh turunkan perintah mengganti sembelihan itu dengan seekor domba. Sebuah ujung yang melegakan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here